Menuntut ilmu merupakan jalan menuju kebahagiaan yang abadi. Seorang muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu syar’i. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim. (HR Ibnu Majah No. 224 dari shahabat Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu, lihat Shahih Jamiush Shagir, no. 3913) [2]

Jumat, 21 Mei 2010

SHALIH AL-MIRRI dan Seorang Pemuda yang Bertaubat

Dari Raja’ bin Maisur al-Majusyi’i, ia menuturkan, “Kami berada di majelis Shalih al-Mirri saat ia sedang berbicara (mengajar), lalu ia berkata kepada seorang pemuda yang berada di hadapannya, “Bacalah, wahai pemuda!” Lalu pemuda itu membaca, “Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (Hari Kiamat yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zhalim tidak mempunyai teman setia seorang pun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya.” (Al-Mu’min: 18)
Shalih menyela bacaan itu kemudian berkata, “Bagaimana mungkin seorang yang dzalim dapat memiliki pembela, padahal semua tuntutan adalah kepunyaan Allah? Demi Allah, seandainya engkau menyaksikan orang-orang yang berbuat zhalim dan maksiat digiring ke neraka dalam keadaan terikat rantai, tidak beralas kaki, telanjang, berwajah hitam, mata membiru dan badan lunglai seraya berseru, ‘Celaka kami! Apa yang akan menimpa kami? Mau dibawa ke mana kami? Mau diapakan kami?’ Malaikat menggiring mereka dengan palu godam dari api, kadangkala para malaikat itu menginjak wajah mereka, dan kadang diseret pula. Terkadang mereka menangis darah karena air matanya telah habis, terkadang mereka berteriak keras terheran-heran. Demi Allah, seandainya engkau melihat keadaan mereka, engkau tidak akan kuat menyaksikannya, hatimu pasti gelisah dan kakimu akan gemetar.” Kemudian Shalih berseru, “Betapa buruknya pemandangan ketika itu! Betapa jeleknya akhir perjalanan itu!” Shalih menangis, dan semua orang di sekitarnya juga menangis.
Pemuda tadi berdiri dan berkata, “Apakah semua ini akan terjadi pada Hari Kiamat?” Shalih menjawab, “Ya, demi Allah, wahai anak saudaraku. Aku tidak melebih-lebihkan. Aku mendengar bahwa mereka berteriak di neraka sampai suara mereka habis.”
Pemuda itu pun berseru, “Innalillah! Betapa aku telah lalai selama ini! Ya Rabb, betapa aku menyesal telah tidak taat selama hidupku ini, betapa aku sangat menyesal telah membuang-buang waktuku di dunia.”
Lalu pemuda tersebut menangis, kemudian ia menghadap kiblat seraya berdoa, “Ya Allah, aku sekarang menghadapMu dengan taubat yang tidak dicampuri dengan riya’. Ya Allah, terimalah aku atas apa yang telah aku lakukan sebelumnya. Ampunilah perbuatanku terdahulu, angkatlah aku dari dosaku, sayangilah aku dan orang yang di sekitarku. Karuniakanlah kami sifat kedermawanan dan sifat pemurahMu, wahai Dzat Yang Maha Pengasih di antara para pengasih. KepadaMu aku lemparkan ikatan dosa dari leherku. KepadaMu-lah aku kembali dengan semua anggota badan ini dengan hati yang tulus. Ohh… celakalah aku, jika Engkau tidak menerima diriku.” Setelah itu ia pingsan.
Shalih dan saudara-saudaranya menjenguk pemuda itu selama beberapa hari dan akhirnya ia meninggal. Banyak sekali orang yang hadir, mereka menangisinya dan mendoakannya. Shalih sering menyebut-nyebut pemuda itu dalam majelisnya dengan berkata, “Sungguh ia telah meninggal karena al-Qur’an. Sungguh ia meninggal karena nasihat dan kesedihan.” Seseorang memimpikan pemuda tersebut setelah kematiannya. Orang itu bertanya dalam mimpinya, “Apa yang telah kau lakukan.?” Ia menjawab, “Keberkahan majelis Shalih meliputiku, sehingga aku masuk dalam keluasan rahmat Allah yang meliputi segala sesuatu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar