Menuntut ilmu merupakan jalan menuju kebahagiaan yang abadi. Seorang muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu syar’i. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim. (HR Ibnu Majah No. 224 dari shahabat Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu, lihat Shahih Jamiush Shagir, no. 3913) [2]

Minggu, 01 Agustus 2010


BEBERAPA GERAKAN SOLAT DAN MANFAATNYA

Takbiratul Ihram
Berdiri tegak, mengangkat kedua tangan sejajar tlinga, lalu melipatnya di depan perut atau dada bagian bawah. Gerakan ini bermanfaat untuk melancarkan aliran darah, getah bening (limfe), dan kekuatan otot lengan. Posisi jantung di bawah otak memungkinkan darah mengalir lancer ke seluruh tubuh. Saat mengangkat kedua tangan, otot bahu meregang sehingga aliran darah kaya oksigen menjadi lancar. Kemudian kedua tangan didekapkan di depan perut atau dada bagian bawah. Sikap ini menghindarkan dari berbagai gangguan persendian, khususnya pada tubuh bagian atas.

Ruku’
Ruku’ yang sempurna ditandai tulang belakang yang lurus sehingga bila diletakkan segelas air di atas punggung tersebut tak akan tumpah. Posisi kepala lurus dengan tulang belakang. Gerakan ini bermanfaat untuk menjaga kesempurnaan posisi serta fungsi tulang belakang (corpus vertebrae) sebagai penyangga tubuh dan pusat saraf. Posisi jantung sejajar dengan otak, maka aliran darah maksimal pada tubuh bagian tengah. Tangan yang bertumpu di lutut berfungsi untuk merelaksasikan otot-otot bahu hingga ke bawah. Selain itu, rukuk adalah sarana latihan bagi kemih sehingga gangguan prostate dapat dicegah.

I’tidal
Bangun dari ruku’, tubuh kembali tegak setelah mengangkat kedua tangan setinggi telinga. I’tidal merupakan variasi dari postur setelah ruku’ dan sebelum sujud. Gerakan ini bermanfaat sebagai latihan yang baik bagi organ-organ pencernaan. Pada saat I’tidal dilakukan, organ-organ pencernaan di dalam perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian. Tentu memberi efek melancarkan pencernaan.

Sujud
Menungging dengan meletakkan kedua tangan, lutut, ujung kaki, dan dahi pada lantai. Posisi sujud berguna untuk memompa getah bening ke bagian leher dan ketiak. Posisi jantung di atas otak menyebabkan daerah kaya oksigen bisa mengalir maksimal ke otak. Aliran ini berpengaruh pada daya pikir seseorang. Oleh karena itu, sebaiknya lakukan sujud dengan tuma’ninah, tidak tergesa-gesa agar darah mencukupi kapasitasnya di otak. Posisi seperti ini menghindarkan seseorang dari gangguan wasir. Khusus bagi wanita, baik ruku’ maupun sujud memiliki manfaat luar biasa bagi kesuburan dan kesehatan organ kewanitaan.

Duduk di antara sujud
Duduk setelah sujud terdiri dari dua macam yaitu iftirosy (tahiyat awal) dan tawarru’ (tahiyat akhir). Perbedaan terletak pada posisi telapak kaki. pada saat iftirosy, tubuh bertumpu pada pangkal paha yang terhubung dengan saraf nervus Ischiadius. Posisi ini mampu menghindarkan nyeri pada pangkal paha yang sering menyebabkan penderitanya tak mampu berjalan. Duduk tawarru’ sangat baik bagi pria sebab tumit menekan aliran kandung kemih (uretra), kelenjar kelamin pria (prostate) dan saluran vas deferens. Jika dilakukan dengan benar, posisi seperti ini mampu mencegah impotensi. Variasi posisi telapak kaki pada iftirosy dan tawarru’ menyebabkan seluruh otot tungkai turut meregang dan kemudian relaks kembali. Gerak dan tekanan harmonis inilah yang menjaga kelenturan dan kekuatan organ-organ gerak kita.

Salam
Gerakan memutar kepala ke kanan dan ke kiri secara maksimal. Salam bermanfaat untuk bermanfaat untuk merelaksasikan otot sekitar leher dan kepala menyempurnakan aliran darah di kepala sehingga mencegah sakit kepala serta menjaga kekencangan kulit wajah.

Gerakan sujud tergolong unik. Sujud memiliki falsafah bahwa manusia menundukkan diri serendah-rendahnya, bahkan lebih rendah dari pantatnya sendiri. Dari sudut pandang ilmu psikoneuroimunologi (ilmu mengenai kekebalan tubuh dari sudut pandang psikologis) yang didalami Prof. Soleh, gerakan ini mengantarkan manusia pada derajat setinggi-tingginya. Mengapa?

Dengan melakukan gerakan sujud secara rutin, pembuluh darah di otak terlatih untuk menerima banyak pasokan oksigen. Pada saat sujud, posisi jantung berada di atas kepala yang memungkinkan darah mengalir maksimal ke otak. Artinya, otak mendapatkan pasokan darah kaya oksigen yang memacu kerja sel-selnya. Dengan kata lain, sujud yang tuma’ninah dan kontinu dapat memicu peningkatan kecerdasan seseorang.

Setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara normal. Darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak melainkan ketika seseorang sujud dalam shalat. Urat saraf tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini berarti, darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikuti waktu shalat, sebagaimana yang telah diwajibkan dalam Islam.

Riset di atas telah mendapat pengakuan dari Harvard University, Amerika Serikat. Bahkan seorang dokter berkebangsaan Amerika yang tak dikenalnya menyatakan diri masuk Islam setelah diam-diam melakukan riset pengembangan khusus mengenai gerakan sujud. Di samping itu, gerakan-gerakan dalam shalat sekilas mirip gerakan yoga ataupun peregangan (stretching). Intinya, berguna untuk melenturkan tubuh dan melancarkan peredaran darah. Keunggulan shalat dibandingkan gerakan lainnya adalah di dalam shalat kita lebih banyak menggerakkan anggota tubuh, termasuk jari-jari kaki dan tangan.

Sujud adalah latihan kekuatan otot tertentu, termasuk otot dada. Saat sujud, beban tubuh bagian atas ditumpukan pada lengan hingga telapak tangan. Saat inilah kontraksi terjadi pada otot dada, bagian tubuh yang menjadi kebanggaan wanita. Payudara tak hanya menjadi lebih indah bentuknya tetapi juga memperbaiki fungsi kelenjar air susu di dalamnya.

Masih dalam posisi sujud, manfaat lain yang bisa dinikmati kaum hawa adalah otot-otot perut (rectus abdominis dan obliqus abdominis externus) berkontraksi penuh saat pinggul serta pinggang terangkat melampaui kepala dan dada. Kondisi ini melatih organ di sekitar perut untuk mengejan lebih dalam dan lebih lama yang membantu dalam proses persalinan. Karena di dalam persalinan dibutuhkan pernapasan yang baik dan kemampuan mengejan yang mencukupi. Bila otot perut telah berkembang menjadi lebih besar dan kuat, maka secara alami, otot ini justru menjadi elastis. Kebiasaan sujud menyebabkan tubuh dapat mengembalikan dan mempertahankan organ-organ perut pada tempatnya kembali (fiksasi).

Setelah melakukan sujud, kita melakukan gerakan duduk. Dalam shalat terdapat dua jenis duduk: iftirosy (tahiyat awal) dan tawaru’ (tahiyat akhir). Hal terpenting adalah turut berkontraksinya otot-otot daerah perineum. Bagi wanita, di daerah ini terdapat tiga liang yaitu liang persenggamaan, dubur untuk melepas kotoran, dan saluran kemih. Saat tawarru’, tumit kaki kiri harus menekan daerah perineum.

Punggung kaki harus diletakkan di atas telapak kaki kiri dan tumit kaki kanan harus menekan pangkal paha kanan. Pada posisi ini tumit kaki kiri akan memijit dan menekan daerah perineum. Tekanan lembut inilah yang memperbaiki organ reproduksi di daerah perineum.

Pada dasarnya, seluruh gerakan shalat bertujuan meremajakan tubuh. Jika tubuh lentur, kerusakan sel dan kulit sedikit terjadi. Apalagi jika dilakukan secara rutin, maka sel-sel yang rusak dapat segera tergantikan. Regenerasi pun berlangsung dengan lancar. Alhasil, tubuh senantiasa bugar.

Menurut penelitian Prof. Dr. Muhammad Soleh dalam disertasinya yang berjudul “Pengaruh Shalat Tahajud terhadap Peningkatan Perubahan Respon Ketahanan Tubuh Imonologik: Suatu Pendekatan Neuroimunologi” dengan disertasi itu, Soleh berhasil meraih gelar Doctor dalam bidang ilmu kedokteran pada program pasca sarjana Universitas Surabaya yang dipertahankannya beberapa waktu lalu.

Shalat tahajud ternyata bukan hanya sekedar shalat tambahan (sunnah muakkad), tetapi jika dilakukan secara rutin dan ikhlas akan bisa mengatasi penyakit kanker. Secara medis, shalat tahajud mampu menumbuhkan respons ketahanan tubuh (imunologi) khususnya pada imunoglobin M, G, A, dan limfositnya yang berupa persepsi serta motivasi positif. Selain itu, juga dapat mengefektifkan kemampuan individu untuk menanggulangi masalah yang dihadapi.

Selama ini, ulama melihat ikhlas hanya sebagai persoalan mental psikis. Namun, sebetulnya permasalahan ini dapat dibuktikan dengan teknologi kedokteran. Ikhlas yang selama ini dipandang sebagai misteri dapat dibuktikan secara kuantitatif melalui sekresi hormon kortisol dengan parameter kondisi tubuh. Pada kondisi normal, jumlah kortisol pada pagi hari normalnya antra 38-690 nmol/liter. Sedangkan pada malam hari atau setelah pukul 24.00, jumlah ini meningkat menjadi 69-345 nmol/liter.

“Kalau jumlah hormone kortisolnya normal, dapat diindikasikan bahwa orang tersebut tidak ikhlas karena merasa tertekan. Demikian juga sebaliknya,” ujarnya seraya menegaskan temuannya ini membantah paradigma lama yang menganggap ajaran agama Islam semata-mata dogma atau doktrin.

Menurut Dr. Soleh, orang stress biasanya rentan sekali terhadap penyakit kanker dan infeksi. Dengan melakukan tahajud secara rutin dan disertai perasaan ihklas serta tidak terpaksa, seseorang akan memiliki respon imun yang baik serta besar kemungkinan terhindar dari penyakit infeksi dan kanker. Berdasarkan perhitungan medis, shalat tahajud yang demikian menyebabkan seseorang memiliki ketahanan tubuh yang baik.

KEAJAIBAN GERAKAN SHALAT

Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Adz Dzariyat: 56)

Ayat pembukaan di atas jelas mengisyaratkan bagi kita kaum muslim untuk hanya menyembah Zat Maha Tunggal, yaitu Allah SWT. Shalat merupakan salah satu cara untuk menunjukkan penghambaan kita kepada Allah. Namun lebih daripada itu, shalat tidak hanya menjadi kewajiban atas umat muslim. Melainkan menjadi suatu kegiatan atau aktivitas yang seharusnya menjadi kebutuhan, bukan kewajiban. Artikel yang akan anda baca ini akan menjelaskan mengapa shalat seharusnya tidak menjadi kewajiban yang memberatkan. Justru menjadi suatu aktivitas ibadah yang tiada duanya yang memberi manfaat penuh bagi yang melaksanakannya. Shalat adalah satu-satunya ibadah yang berisi gerakan-gerakan yang menyehatkan dan lebih mirip seperti berolahraga.

URGENSI SHALAT

Dalam agama Islam, shalat itu memiliki kadar kepentingan yang amat besar. Bukti-buktinya adalah sebagaimana berikut:

a). Shalat merupakan rukun Islam yang kedua.

b). Shalat adalah amal hamba paling awal yang dihisab (dikalkulasi) nanti di hari kiamat. Jika diterima, maka akan diterima pula amal yang lainnya. Demikian pula sebaliknya, jika tertolak maka tertolak pula amal yang lain.

c). Shalat adalah amal hamba paling awal yang dihisab (dikalkulasi) nanti di hari kiamat. Jika diterima, maka akan diterima pula amal yang lainnya. Demikian pula sebaliknya, jika tertolak maka tertolak pula amal yang lain.

d). Orang yang memeliharanya berarti telah memelihara agamanya. Sedangkan yang menyia-nyiakannya pasti dia menyia-nyiakan yang lainnya.

e). Ukuran Islam dalam kalbu seseorang seperti kadar shalat dalam kalbunya. Demikian pula bagian seseorang dalam agama seperti bagian dia dalam shalatnya.

f). Shalat merupakan bukti kuat mengenai cinta seorang hamba kepada Rabbnya dan tanda syukur terhadap nikmat-nikmatNya.

g). Karena urgensinya, maka Allah memerintahkan pelaksanaannya dalam kondisi bagaimanapun, baik dalam perjalanan atau mukim, dalam kondisi perang atau damai dan dalam keadaan sehat atau sakit.

h). Demikian halnya, seluruh nash (baik ayat ataupun hadits) menyatakan dengan jelas bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir. Nabi bersabda: “Sesungguhnya penghalang antara seseorang dengan kekafiran dan kesyirikan adalah meninggalkan shalat”. (HR. Muslim). Beliau juga bersabda: “Perjanjian di antara kita dan mereka adalah shalat, maka siapa saja yang meninggalkannya sungguh telah kafir”. (HR. Ahmad dan para pemilik kitab Sunan).

Maka dari itu, jika orang yang meninggalkan shalat mati, maka dia kafir dan tidak perlu dimandikan, tidak dikafani, tidak dishalatkan, tidak dikuburkan di pemakaman kaum muslimin, hartanya tidak boleh diwarisi oleh keluarganya yang muslim tapi masuk dalam baitul mal kaum muslimin dan hukum-hukum lainnya.

Shalat ternyata tidak hanya menjadi amalan utama di akhirat nanti, tetapi gerakan-gerakan shalat paling proporsional bagi anatomi tubuh manusia. Bahkan dari sudut medis, shalat adalah gudang OBAT dari BERBAGAI JENIS PENYAKIT.

Allah SWT tahu persis apa yang sangat dibutuhkan oleh ciptaan-Nya, khususnya manusia. Semua perintahNya tidak hanya bernilai ketakwaan, tetapi juga mempunyai manfaat besar bagi tubuh manusia itu sendiri. Misalnya, puasa, perintah Allah di rukun Islam ketiga ini sangat diakui manfaatnya oleh para medis dan ilmuwan dunia barat. Mereka pun serta merta ikut berpuasa untuk kesehatan diri dan pasien mereka.

Begitu pula dengan shalat. Ibadah shalat merupakan ibadah yang paling tepat untuk metabolisme dan tekstur tubuh manusia. Gerakan-gerakan di dalam shalat pun mempunyai manfaat masing-masing.

Selasa, 01 Juni 2010

Menjadi PENGHUNI SURGA (Karena tidak Hasad)

Diriwayatkan dari Anas bin Malik dia berkata, "Ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba-tiba beliau bersabda, 'Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki penghuni Surga.' Kemudian seorang laki-laki dari Anshar lewat di hadapan mereka sementara bekas air wudhu masih membasahi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal.

Esok harinya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda lagi, 'Akan lewat di hadapan kalian seorang laki-laki penghuni Surga.' Kemudian muncul lelaki kemarin dengan kondisi persis seperti hari sebelumnya.

Besok harinya lagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 'Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga!!' Tidak berapa lama kemudian orang itu masuk sebagaimana kondisi sebelumnya; bekas air wudhu masih memenuhi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal .

Setelah itu Rasulullah bangkit dari tempat duduknya. Sementara Abdullah bin Amr bin Ash mengikuti lelaki tersebut, lalu ia berkata kepada lelaki tersebut, 'Aku sedang punya masalah dengan orang tuaku, aku berjanji tidak akan pulang ke rumah selama tiga hari. Jika engkau mengijinkan, maka aku akan menginap di rumahmu untuk memenuhi sumpahku itu.'

Dia menjawab, 'Silahkan!'

Anas berkata bahwa Amr bin Ash setelah menginap tiga hari tiga malam di rumah lelaki tersebut tidak pernah mendapatinya sedang qiyamullail, hanya saja tiap kali terjaga dari tidurnya ia membaca dzikir dan takbir hingga menjelang subuh. Kemudian mengambil air wudhu.

Abdullah juga mengatakan, 'Saya tidak mendengar ia berbicara kecuali yang baik.'

Setelah menginap tiga malam, saat hampir saja Abdullah menganggap remeh amalnya, ia berkata, 'Wahai hamba Allah, sesungguhnya aku tidak sedang bermasalah dengan orang tuaku, hanya saja aku mendengar Rasulullah selama tiga hari berturut-turut di dalam satu majelis beliau bersabda, 'Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga.' Selesai beliau bersabda, ternyata yang muncul tiga kali berturut-turut adalah engkau.

Terang saja saya ingin menginap di rumahmu ini, untuk mengetahui amalan apa yang engkau lakukan, sehingga aku dapat mengikuti amalanmu. Sejujurnya aku tidak melihatmu mengerjakan amalan yang berpahala besar. Sebenarnya amalan apakah yang engkau kerjakan sehingga Rasulullah berkata demikian?'

Kemudian lelaki Anshar itu menjawab, 'Sebagaimana yang kamu lihat, aku tidak mengerjakan amalan apa-apa, hanya saja aku tidak pernah mempunyai rasa iri kepada sesama muslim atau hasad terhadap kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya.'

Abdullah bin Amr berkata, 'Rupanya itulah yang menyebabkan kamu mencapai derajat itu, sebuah amalan yang kami tidak mampu melakukannya'."

INDAHNYA MENGUTAMAKAN ORANG LAIN

Abu Jahm bin Hudzaifah al-‘Adawi berkata, "Dalam peperangan Yarmuk, aku pergi untuk mencari anak pamanku, dan aku membawa seember air. Aku berkata di dalam hati, 'Jika anak pamanku masih hidup, aku ingin memberinya minum dari tempat minumku ini, lalu aku basuh mukanya dengan air ini pula.'

Benar, aku menemukan beliau, aku bertanya kepadanya, 'Mau minum?' Beliau memberi isyarat dengan mengiyakan. Tiba-tiba saja lelaki di sebelah anak pamanku mengeluh kehausan, 'Ah,' anak pamanku memberi isyarat agar aku menuju ke tempat orang tersebut dengan membawa tempat minumku. Laki-laki tersebut tidak lain adalah Hisyam bin al-Ash saudara kandung Amr bin al-Ash. Aku datangi beliau dan bertanya, 'Mau minum?' Kemudian terdengan orang lain berkata, 'Ah,' karena kehausan.

Hisyam memberi isyarat agar aku menuju ke tempat orang tersebut. Aku menuruti keinginannya untuk mendatangi orang yang haus tersebut. Sesampainya aku di situ, ternyata ia telah meninggal. Aku datangi lagi Hisyam, beliau pun sudah meninggal. Kemudian aku balik mendatangi anak pamanku, beliau pun sudah meninggal dunia."

Jumat, 21 Mei 2010

Kisah Jibril Menyumpalkan Tanah ke Mulut Firaun

Al Qur’an telah menyampaikan kepada kita secara panjang lebar tentang Fir’aun, tentang kesombongan dan kelalaiannya, tentang sepak terjang dan perilakunya dalam menghadapi kebenaran. Al Qur’an juga menyampaikan kepada kita tentang turunnya adzab Alloh kepadanya dan bala tentaranya. Manakala turunnya adzab Alloh kepadanya dan bala tentaranya. Manakala Alloh menenggelamkannya lalu membinasakannya, Jibril hadir untuk menyaksikan. Jibril telah memberitahu Rosululloh SAW bahwa pada saat Fir’aun tenggelam dia berkata, “Aku percaya bahwa tidak ada tuhan selain Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil.” Jibril menyumpal mulutnya dengan lumpur laut, sehingga dia tidak bisa berucap kalimat tauhid, karena takut dia meraih rahmat Alloh dan taubatnya diterima.
Apa yang dilakukan oleh Jibril tidak lain karena kebenciannya yang sangat besar terhadap thaghut yang tenggelam dalam kekufuran dan kerusakan ini. Dia memerangi Islam dan memfitnah orang-orang beriman.
Mungkin ada yang berkata, “Apa ruginya Jibril kalau Alloh memberi rahmat kepada Fir’aun dan mengampuninya?” jawabnya adalah bahwa seorang hamba sampai pada keadaan membenci orang-orang zalim dimana dia berdoa kepada Alloh agar taubat mereka tidak diterima dan tidak dimasukkan ke dalam rahmat-Nya. Ini terjadi pada Musa. Dia berdo’a atas Fir’aun dan bala tentaranya agar Alloh mengunci mata hati mereka, sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat adzab yang pedih. “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah member kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.” (QS. Yunus:88)
Mungkin ada yang berkata, “Bukankah sudah maklum bahwa Alloh tidak menerima taubat pada saat turun adzab, dan pada saat nafas di kerongkongan?” Bagaimana Jibril mengira bahwa Alloh mungkin mengampuni Fir’aun sementara dia dalam kondisi seperti itu? Jawabnya adalah bahwa Jibril melakukan apa yang dia kira tanpa menoleh kepada ilmu Alloh. Wallohua’lam.

(Hikmah Muallaf) Biar Miskin Materi Asal Kaya Iman


Kisah penyiksaan fisik dan mental demi mempertahankan aqidah yang berujung dengan meninggalnya Mutmainah, sepupu perempuan saya, kadang masih melintas di bayangan. Sedih hati ini jika mengingatnya, namun saya hanya mampu berkhusnudzon bahwa dibalik tragedi itu ada hikmah di belakangnya, yaitu beberapa keluarga kami di Kaiwani, Distrik Ossu, Viqueque Timorleste akhirnya memeluk Islam.
22 tahun sebelum kejadian itu, paman saya pergi mengikuti TNI ke Makassar. Sekembalinya dari sana ia telah menganut Islam dan berganti nama menjadi Muhammad Miol. Keislaman paman saya ini lalu diikuti paman saya yang lainnya yaitu Umar Azis. Saya yang saat itu masih menginjak kelas 3 SD Katholik seringkali terheran-heran melihat ritual yang dilakukan Umar Azis yang di kemudian hari saya tahu itu adalah gerakan sholat.
Saat melihat Umar Azis sholat itulah, timbul dalam batin saya rasa ketertarikan dan ingin mengikutinya. Barangkali inilah jalan hidayah itu. Melihat saya yang diam-diam memperhatikannya, Umar Azis lalu mengajak saya berbincang-bincang mengenai Islam hingga bulatlah keinginan saya untuk juga menjadi seorang muslim dan belajar lebih banyak tentang agama ini.
Kesempatan itu terbuka lebar ketika Umar Azis hendak ke Dili. Dengan bermodalkan baju putih dan celana pendek warna biru, saya beranikan diri mengikutinya ke Dili. Meski ibu saya berusaha menghalangi niat saya dengan mencegat di jalan, namun saya berhasil lolos dan bersama Umar Azis sampai di Dili, tepatnya di masjid An Nur.
Lalu dengan dibimbing Ustadz H. Abdullah Saryawan saya baca dua kalimat Syahadat sebagai ikrar keislaman saya. Menandai keislaman itu, nama sayapun diganti dari Clementino Hornai menjadi Husein Muhammad Zahri. Meskipun lega hati ini namun saya tahu perjalanan berat baru akan dimulai.
Selepas ikrar syahadat itu saya lalu masuk ke Ponpes Ali Yakin Quluhum. Saat di Ali Yakin itulah timbul rasa kangen yang menggebu-gebu kepada keluarga, terutama ibu. Saya benar-benar tidak betah dan selalu ingin pulang, namun kalau kembali ke orang tua syaratnya pasti saya harus Katholik lagi, maka saya pendam keinginan itu dan terus menuntut ilmu di Ali Yakin.
Kabar keislaman saya ternyata terdengar di kalangan keluarga besar saya hingga menggerakkan pula saudara-saudara saya yang lain untuk mengikuti langkah saya. Dengan menumpang truk yang melewati kampung saya, dua saudara perempuan saya menyusul ke Dili untuk menyatakan keislamannya.
Namun ternyata ada harga mahal yang harus dibayar dengan keislaman mereka. Sepulangnya mereka ke kampung halaman, cobaan keras telah menantinya. Kakak perempuan saya dipaksa makan sepiring makanan yang telah diguyur kuah masakan daging babi. Bahkan itu yang melakukan justru Ibu saya sendiri. Siksaanpun tak berakhir di situ. Sepupu saya yang bernama Mutmainah bahkan mendapat cobaan lebih keras. Ia mendapat siksaan dari orangtuanya yang berujung pada tewasnya sepupu saya tersebut. Mohon doanya agar ia tenang di sisiNya sebagai syahidah…
Namun cobaan itu tak menyurutkan mereka untuk masuk Islam. Alhamdulillah, akhirnya hidayah turun juga kepada kedua orang tua saya, paman dan bibi-bibi saya serta sepupu-sepupu saya.
Keadaan tersebut tentu membuat warga desa menjadi amat marah. Berbagai cara dilakukan untuk menghambat laju perkembangan Islam. Awalnya mereka membuat perjanjian dimana dalam salah satu isinya menyebutkan bahwa umat Islam tidak boleh menerima warga Katolik yang akan pindah ke Islam. Selain itu kami juga dipersulit dalam pengurusan KTP. Setiap warga yang akan membuat KTP yang berganti agama maka harus ijin Pastur setempat. Inipun kami tolak. Dan puncak kekesalan ini terjadi pada akhir tahun 1996 lalu dimana mushala Al-Istiqomah milik para muallaf di desa Kaiwati dibakar. Mereka juga menganiaya umat Islam yang ada di sana.
Tak cukup hanya sampai di situ, mereka kemudian juga turun ke jalan dan menghadang sejumlah kendaraan yang lewat dan melakukan razia KTP. Merasa tak aman, sejumlah muallaf lalu mengungsi ke Pos TNI Batalyon Teritorial 410 Ossu, Viqueque. Sungguh situasi yang amat menegangkan bagi ummat Islam di sana.
Suatu saat, atas permintaan sebuah yayasan di Jombang yang membuka program pendidikan untuk kader pendakwah di Timor Timur saya terpilih mengikuti program tersebut bersama 9 teman saya lainnya. Saya tinggal di yayasan tersebut beberapa waktu. Namun saat krisis melanda Indonesia, yayasan tersebut akan dijadikan pondok. Ada dua pilihan yang ditawarkan pada kami saat itu, akan mondok namun tidak meneruskan sekolah umum atau keluar. Berhubung saya ingin mempertahankan sekolah saya yang hampir tamat MI (Madrasah Ibtidaiyah) maka saya memilih yang kedua.
Kebingungan langsung menghantui saya. Kalau keluar trus saya akan menghidupi diri dari mana, begitu pikir saya saat itu. Alhamdulillah atas kebaikan kepala sekolah MI saya akhirnya dikenalkan dengan seseorang yang akhirnya mengangkat saya sebagai anak angkatnya. Orang tua angkat saya sebenarnya baik namun berhubung saya orangnya sungkan-an saya tidak begitu kerasan tinggal di rumahnya. Setelah dari Jombang saya tinggal di Panti Asuhan (PA) Muhammadiyah Kedung Asem.
Demi memenuhi kehausan saya mempelajari agama Islam, saya lalu pindah ke Pesantren Sabilillah di Lamongan. Dalam kondisi tak memiliki apa-apa saya harus berjuang menghidupi diri. Sebelum subuh saya cuci pakaian, lalu belajar diniyah di pesantren hingga subuh. Selepas subuh saya ke pasar belanja buah dan nasi bungkus untuk dijual pada teman-teman di Aliyah. Hasil penjualan itu saya gunakan untuk biaya sekolah dan hidup sehari-hari.
Setelah lulus Aliyah, tahun 2003 saya kembali ke PA Muhammadiyah Kedung Asem-Surabaya. Di sana saya mulai menyebarkan lamaran untuk bekerja di berbagai kantor demi mendapatkan biaya hidup dan biaya kuliah. Penolakan menjadi sesuatu yang amat biasa bagi saya. Namun saya tak menyerah begitu saya. Saya pernah menjadi penjaga sepeda, pernah juga menjadi satpam dan guru agama di sebuah sekolah. Saat ini sayapun kadang diundang mengisi majlis-majlis taklim.
Alhamdulillah, meskipun kadang terasa berat namun saya bersyukur kepada Alloh atas nikmat Islam ini. Perjalanan hidup yang berat telah mengajarkan pada diri saya bahwa meskipun kita miskin materi, yang penting hati kita memiliki kekayaan yang membuat kita besar, yaitu kekayaan Iman. Itulah yang akan membuat kita hidup jauh lebih bahagia…

Bau Wangi Wanita Penyisir Rambut


Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Pada saat malam terjadinya Isra’ saya mencium bau harum, yang dijawab Jibril bahwa itu adalah bau wangi wanita penyisir rambut putri Fir’aun yaitu Masyithah dan anak-anaknya.”
Rosululloh bertanya, ”Bagaimana bisa?”
Jibril bercerita, “Ketika dia menyisir rambut putri Fir’aun suatu hari, tiba-tiba sisirnya terjatuh. Dia mengambilnya dengan membaca ”Bismillah (dengan nama Alloh)”
Putri Fir’aun berkata, “Hai, bukan bismillah tapi dengan nama bapakku..!” Masyithah berkata, “Bukan, Alloh adalah Tuhanku, Tuhanmu dan juga Tuhan bapakmu. Tiada Illah selain Alloh.”
Putri Fir’aun berkata, “Kamu punya Tuhan yang bukan ayahku?” Masyitah menjawab, “Ya. Tuhan kita semua hanya satu, yaitu Alloh.” Anak putri Fir’aun berkata, “Akan aku laporkan pada ayahku…!”
Wanita tukang sisir menjawab, ‘Silahkan!’
Putri Fir’aun kemudian melaporkan pada bapaknya, dan Fir’aunpun memanggil Masyithah.
Fir’aun bertanya, “Ya Masyithah, apakah kamu mempunyai Tuhan yang bukan aku?” Masyithah menjawab, “Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Alloh.”
Fir’aun-pun marah hingga memerintahkan prajuritnya untuk mempersiapkan periuk besar dari tembaga untuk dipanaskan. Satu persatu anak wanita tukang sisir dilemparkan ke dalam periuk yang mendidih.
Beberapa saat kemudian, Masyithah berkata pada Fir’aun, “Saya mempunyai satu permohonan.”
Fir’aun menjawab, “Katakanlah.”
Masyithah berkata, “Saya ingin engkau mengumpulkan tulang-tulangku dan tulang-tulang anakku dalam satu kantong untuk kemudian dikuburkan.”
Fir’aun menjawab, “Akan aku penuhi permintaanmu.” Lalu satu demi satu anaknya dilemparkan ke dalam periuk mendidih itu di depan matanya, sampai akhirnya tinggal seorang bayi yang masih menyusu. Karena iba melihat bayinya yang tanpa dosa harus menanggung kematian itu Masyithah nampak ragu-ragu.
Atas izin Alloh tiba-tiba Si bayi berbicara, “Terjunlah Ibu, Terjunlah..! Adzab dunia jauh lebih ringan daripada adzab Akhirat.” Mendengar anaknya berbicara si ibupun langsung terjun bersama bayinya.
Demikianlah sebuah kisah yang tercantum dalam Musnad Imam Ahmad, 4/291-295 dan juga tercantum dalam Majma’uz Zawa’id, 1/65. Anisul Jalabi II, Ali Al-Hazza’. Kisah dari seorang wanita bernama Mashithah yang menjadi penerang kegelapan istana Fir’aun. Dia mempertahankan kebenaran, meskipun berat dan pahit terasa. Lalu siapakah pembawa obor bagi kita di kegelapan abad dua puluh satu ini? “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas.”